15 Tahun Pendidikan Berpola Asrama

Tak ada donatur tetap, tak jadi soal. Niat memerdekakan anak-anak tak berdaya, berhasil. Sekolah lengkap dengan asrama menjadi tempat ratusan anak menatap cerahnya masa depan.

JUBI --- Udara pagi terasa dingin membeku. Suasana hening sesekali diselingi gemuruh angin menghantam tebing dan menghilang setelah menyusuri lembah. Hangatnya kehidupan mulai terasa ketika terdengar suara anak-anak memuji Tuhan. Pujian itu membawa harapan dan cerita akan masa depan bagi setiap orang yang tinggal jauh dibalik gunung berbalut awan dan hampir tak terjangkau.
Bilogai, daerah nun jauh di pedalaman Papua. Kini ibukota Kabupaten Intan Jaya. Sejak belasan tahun silam, di ibukota Distrik Sugapa, Yayasan Pelayanan Desa Terpadu (PESAT) hadir. Membuka sekolah, TK Cenderawasih, lengkap dengan asrama. Ya, Pdt. Daniel Alexander merintis pendidikan berpola asrama di pedalaman Papua.
Anak-anak Suku Moni diasuh dan dididik di sekolah itu. Sama seperti sekolah-sekolah yang diselenggarakan Yayasan PESAT di Nabire, TK Cenderawasih pun mendidik anak-anak dengan pola asrama.
Bedanya anak-anak di Sugapa belum mengenal Bahasa Indonesia. Betul-betul masih membawa karakter khas pedalaman. Karenanya, Gestinov Hutubesy, mengaku, mendidik anak-anak dari berbagai latar belakang memang agak susah. “Tapi kami berusaha terapkan pola khusus, pendekatan kasih sayang agar mereka bisa menerima, berubah dan memiliki karakter yang baik, sopan, ramah dan bergaul dengan siapa saja,” tutur pembina asrama itu.
Bagi Gestinov, perubahan sikap dan perilaku anak-anak asuhnya bisa membuat senang orang tua dan famili mereka. Ini sudah bagian dari membawa terang kepada orang lain, minimal keluarga.
“Pendidikan utama di tempat kami ini bukan hanya bidang akademis semata. Kita lebih utamakan pada impartasi kehidupan dari guru dan pengasuh kepada setiap murid,” kata Eliezer Edo Odo, Ketua Yayasan PESAT.
Mandi, gosok gigi, makan teratur, dan pola hidup sehat adalah bagian dari impartasi. Proses impartasi bisa berjalan baik karena mereka hidup bersama dalam satu lingkungan kecil: asrama. Apa yang dilakukan guru atau pengasuh, itulah yang dilihat dan ditirukan anak-anak, sebagai sebuah pelajaran kehidupan.
Semua berlangsung setiap hari selama satu tahun dengan tetap disertai pendidikan kerohanian dan akademis. Setelah usia masa satu tahun, anak-anak yang mengalami perkembangan, dikirim ke Nabire untuk melanjutkan pendidikan. Tak terasa, anak-anak yang pertama dididik kini sudah melanjutkan pendidikan lebih tinggi.
Anak Sugapa yang melanjutkan sekolah di Nabire memiliki prestasi bagus. Ini tentu membanggakan. Ini bukti bahwa Tuhan tak pernah salah dalam mengutus dan menempatkan setiap pelayanan dari Yayasan PESAT.
Tak pernah dibayangkan Pdt. Daniel Alexander, di pedalaman Sugapa ada anak-anak hebat. Keluarganya rata-rata petani. Tingkat kesehatan buruk. Apalagi pendidikan, memprihatinkan. “Papua memiliki putra-putri terbaik yang siap memberkati dunia. Mereka anak-anak pilihan Tuhan,” ucap Pdt. Daniel.
Ia terbeban untuk lebih maksimal lagi di Sugapa. Bisa menjangkau dan terus melayani anak-anak yang tidak ke Nabire. Tetapi semua harus direncanakan dengan matang. Untuk menjangkau Sugapa, butuh biaya besar. Pesawat terbang satu-satunya sarana transportasi ke sana.
Sejak awal, Daniel berkomitmen memerdekakan anak-anak yatim di Tanah Papua. Memberi pelayanan pembinaan mental spiritual, kepribadian, kedisiplinan dan pendidikan. Sekolah serta asrama kemudian dibangun di beberapa daerah. Hasil perjuangannya mulai terasa. Ia bekerja dengan hati. Bekerja untuk memanusiakan generasi tak berdaya.
Ratusan anak yang nyaris terhempaskan jaman berhasil ia selamatkan. Pengasuh, pembina dan guru-guru turut mendukung karya luhurnya bagi generasi Papua.
Rabu, 25 Agustus 2010, ratusan anak berusia kurang dari lima tahun, beberapa diantaranya berusia belasan tahun, tampak ceriah. Mengenakan pakaian adat dengan hiasan di badan. Memenuhi komplek SMP-SMA Anak Panah Nabire. Mereka mengikuti acara perayaan 15 tahun Yayasan Pelayanan Desa Terpadu (PESAT) berkarya di Tanah Papua.
Rata-rata anak yatim piatu. Selama ini mereka tinggal di asrama. Asrama Anugerah, Agape, Gilgal dan Asrama Yudea. Mereka diasuh para pembina. Juga dididik guru-guru di sekolah.
Selain Taman Kanak-kanak (TK): Agape, Shekina, Samabusa, Wanggar dan ada beberapa TK di pinggiran Kota Nabire, Yayasan yang dirintis Pdt. Daniel Alexander juga mendirikan sekolah dasar (SD) dan sekolah lanjutan (SMP dan SMA). Semua sekolah dibangun di satu kawasan, tepatnya di Kalibobo. Di  situ pula dibangun asrama bagi anak-anak asuhnya.
Guru-guru yang direkrut tak diragukan kualitasnya. Doktor sekalipun bersedia tinggal bersama anak-anak di asrama.
Oktovianus Pogau dalam artikelnya (www.pogauokto.blogspot.com/2009/12/pesat-nabire-membangun-pendidikan.html) menulis suasana persaudaraan dan kekeluargaan di asrama. Anak-anak dari berbagai daerah menjadi satu keluarga besar. Mereka mendapat pembinaan dan pendidikan.
“Yayasan PESAT dalam karya dan pelayanannya tidak sekedar mendidik Anak-anak Asli Papua sejak TK hingga SMA menjadi pintar dan cerdas semata. Membentuk karakter seorang anak justru lebih diprioritaskan,” demikian Okto.
Selama 15 tahun, yayasan dengan konsep pendidikan berpola asrama, sedikit banyak membantu anak-anak tak mampu ekonominya, juga yang sudah kehilangan orang tua. Pendidikan berpola asrama dianggap tepat untuk membangun pendidikan di Tanah Papua. Anak-anak negeri tidak hanya pintar, cerdas, trampil, tetapi mesti berjiwa kreatif, berakhlak dan berkarakter agar kelak mereka bisa membangun negeri ini.
Tak hanya di Nabire, Pdt. Daniel Alexander juga melebarkan sayapnya di daerah lain. Yakni di Kabupaten Intan Jaya, Mamberamo Raya, Keerom, Manokwari, Mimika dan beberapa kabupaten lain. Di Kabupaten Mimika, Yayasan PESAT menggandeng LPMAK membangun asrama dan sekolah.
Pihak yayasan bergulat untuk menyiapkan hari cerah masa depan Anak-anak Papua. “Kita berkarya di tengah keterpurukan pendidikan di negara ini,” ujar Pdt. Daniel Alexander dalam refleksinya pada perayaan HUT ke-15 Yayasan PESAT.
Di mata Pdt. Daniel Alexander, pendidikan kita kian terpuruk karena tiadanya ketulusan hati orang maupun lembaga negara mau bekerja dan mengabdi demi banyak orang. “Kalau mau jujur, birokrasilah yang menjajah rakyat. Di negara ini orang sakit seharusnya tidak perlu bayar saat berobat. Anak sekolah juga tidak perlu bayar. Kekayaan amat berlimpah yang diberikan Tuhan semestinya digunakan dengan baik untuk membangun manusia. Tapi, faktanya justru tidak,” tuturnya.
Karena itu, “Jangan pernah bilang sudah merdeka di negara ini, sebab 65 tahun kita belum merdeka. Selama ini masih ada kemiskinan, masih ada korban kelaparan, masih ada orang tidak sekolah karena tidak ada uang, selama orang-orang seperti itu masih ada, negara kita belum merdeka.”
Pelbagai kegagalan, kata Daniel, penyebabnya setiap orang tak tahu bertanggung jawab kepada siapa. Pemerintah dengan konstitusinya ada untuk bertanggungjawab kepada Tuhan dan rakyat. Ini soal pengabdian. Jika ada pengabdian, tentu hal luar biasa akan terjadi. Hidup menjadi luar biasa. “Dalam konteks ini, saya harus berkarya. Karya dan pelayanan ini sebagai pertanggungjawaban moril saya kepada Tuhan dan masyarakat. Saya mendidik anak-anak agar kelak mereka berguna bagi banyak orang.”
Pengabdiannya memang patut dijempol. Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, SH bahkan mengakui karya luhur: menyiapkan calon pemimpin masa depan negeri ini.
Pujian juga disampaikan Bupati Nabire, Isaias Douw. “Terima kasih banyak Pak Daniel dan semua yang bekerja di Yayasan PESAT. Kalian telah meringankan beban pemerintah daerah di bidang pendidikan.” (JUBI/Markus You)