Siapa Itu Orang Asli Papua ?

Orang Papua tak pernah henti mencari idetitas diri. Berbagai cara dilakukan, tapi hasilnya belum sempurna.

JUBI---‘Siapa Itu Orang Asli Papua?’ Begitulah judul Seminar yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih Jayapura, minggu pertama Juni 2010. Setidaknya ada tiga pertanyaan mendasar yang mendasari seminar yang digelar Fisipol Uncen tersebut. Pertama, apakah orang Asli Papua itu berambut keriting dan berkulit hitam ? Kedua, disebut sebagai orang Asli karena kedua orang tuanya orang Papua? Dan ketiga disebut sebagai orang asli Papua karena salah satu dari kedua orang tuanya orang Papua?
Topik itu sengaja diwacanakan BEM Fisipol Uncen karena hingga saat ini pengertian Orang Asli Papua masih mengundang berbagai pertanyaan dari masyarakat. Sekalipun dalam Undang-Undang Otonomi Khusus dijelaskan definisi Orang Asli Asli Papua. “Seminar ini digelar untuk menjawab pertanyaan Siapa Orang Asli Papua yang sesungguhnya. Selama ini definisi Asli Papua masih membias dan membingungkan masyarakat,” kata ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fisip Uncen, Benyamin Gurik.
Dalam seminar yang dihadiri oleh berbagai kalangan, baik dari masyarakat, mahasiswa, dosen maupun LSM ini, Dr. JR Mansoben, salah salah satu narasumber, mengatakan untuk mengetahui siapa sesungguhnya Orang Asli Papua, harus kembali ke sejarah asal muasal orang asli Papua secara antropologis. “Perlu ada penelitian mendalam mengenai orang asli dan perlu ada kajian,” katanya.
Rektor Uncen yang diwakili Pembantu Rektor III Universitas Cenderawasih,  Paul Homers, mengatakan, meskipun Udang-Undang Otonomi Khusus telah menjelaskan mendefenisikan siapa Orang Asli Papua, tetapi definisi tersebut belum diterima sepenuhnya. Buktinya, masih muncul berbagai pertanyaan dan perdebatan, Apakah orang Papua hanya berambut keriting dan berkulit hitam? Lalu bagaimana jika sesorang yang anak yang dilahirkan dari seorang ayah yang berambut keriting dan seorang ibu yang berambut lurus yang menghasil wajah hitam manis dan rambut bergelombang? Ataukah, seorang dianggap Orang Asli Papua dilahirkan oleh orang tua yang sama-sama berambut keriting dan berkulit hitam? “Pertanyaan-pertanyaan tersebut sulit dijawab secara gamblang dan lugas. Perlu ada upaya pemberian pemahaman dan pengertian yang jelas  kepada masyarakat ketika melontarkan sejumlah pertanyaan tersebut.
Menanggapi perdebatan orang asli Papua, Pdt. Dr. Beny Giay menegaskan,sejak UU Otsus Papua disahkan tampaknya perbincangan tentang siapa itu Orang Asli Papua (OAP) mulai marak dibicarakan baik secara terbuka maupun diam-diam. Perbincangan ini semakin gencar didengar ketika moment pemilihan bupati maupun walikota mendekati waktunya. Perdebatan ini dipertajam dengan terbitnya Surat Keputusan Majelis Rakyat Papua (MRP) No 14 2009, terkait walikota, bupati maupun wakilnya yang harus Orang Asli Papua. Tentang siapa itu orang asli Papua, Benny lebih melihatnya secara politis.  Ia menyebutkan bahwa yang maksudkan orang asli Papua adalah orang yang dikorbankan akibat kebijakan Pemerintah Republik Indonesia.
Ia berpijak pada buku yang ditulisnya “Sejarah Sunyi Bangsa Papua”  yang dimenurutnya sejak tahun 60-an identitas Papua disembunyikan oleh pemerintah Indonesia.  Menurut pengakuannya, dalam bukunya yang dibredel pemerintah, ia memetakan siapa itu orang Asli Papua. Diantaranya adalah warga Tanah Papua yang menjadi korban secara langsung karena dianggap sebagai "yang lain" oleh elit pemerintah Indonesia, mereka yang telah menyelami sejarah Papua yang sunyi dan menjadi bagian bangsa Papua yang tersingkir sejak awal bersama Papua dan menjadikan impian Papua sebagai idealismenya.
Selain itu Giay juga menyebut kriteria orang Papua. Menurutnya kriteria  Orang Asli Papua didasarkan pada mereka yang menjalani Memoria Passionis. Dalam catatan Giay, ada 10 kriteria orang Asli Papua, diantaranya; warga bangsa Tanah Papua yang leluhurnya telah bermukim di tanah ini beribu tahun, jauh sebelum dijajah oleh  Bangsa Indonesia, Amerika, dan Belanda. Kriteria Kedua Orang Asli Papua  adalah suku bangsa Tanah Papua yang berkulit hitam, rambut keriting yang sejak abad ke-8.
Beny Giay mengatakan, rambut keriting, kulit hitam, belum berarti orang asli Papua. “Meskipun ciri itu dimiliki tetapi ia tak bekerja di tanah ini dengan benar sama saja dengan penghianat,” katanya. Lanjut Giay, meskipun orang itu leluhurnya keturunan bangsa Papua yang tinggal di tanah ini beribu tahun lalu tetapi dalam prakteknya ia bekerja bukan untuk orang asli Papua, dikategorikan bukan orang asli Papua. “Mereka itu memangku jabatan sebagai kepala suku, adat, tetapi mereka punya hobi mengangkat mentri-mentri era orde baru dan petinggi militer sebagai kepala perang maupun kepala suku,” sindirnya.
Dibagian lain, makalah Giay menyebutkan, ada  orang non Asli Papua  rambut lurus yang layak menyandang predikat sebagai orang Asli Papua. Ia menyebut George Aditjondro. Giay menilai peran George sangat besar di Papua. Pada tahun 1980, ia mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pertama di Papua pada 1980. “Sejak saat itu, George bekerja tanpa lelah mengangkat suara orang sli Papua ke tingkat nasional,” katanya. Selain George, nama Carmel Budiardjo dan pendeta S. Titihallawa juga dikategorikan sebagai orang Asli Papua. Carmel dikenal sebagai tokoh yang yang sering memperjuangkan suara-suara Orang Asli Papua di luar negeri. Sedangkan pendeta  Titihallawa dianggap sebagai perempuan non asli Papua yang selalu memperjuangkan hak-hak orang Asli Papua. “kriteria Orang Asli Papua diatas harus dilihat dan dibaca secara utuh, tidak dibagi-bagi dan dilihat sepotong-sepotong, dan siapa saja yang memenuhi criteria diatas marilah silahkan bergabung,” ajaknya.  
Salah satu figur pendatang yang dinilai Giay sebagai sosok yang punya dedikasi tinggi di tanah ini meskipun itu dia orang pendatang adalah Dokter Fx Sudantho. “Ia betul-betul berpihak bagi msyarakat kecil,” katanya. Menurut Giay,  Dr.Sudantho, tak pernah memungut bayaran dari masyarakat ketika melayani pasiennya. Dokter itu  rela dibayar uang kecil sehingga ia dikenal dimana-mana di tanah ini dengan sebutan Dokter Rp1.000,  “Dokter itu pantas di kubur di tanah ini karena ia satu-satunya pendatang yang mau membangun bangsa Papua,”katanya. Dikatakan Giay banyak pendatang yang ada di tanah ini  tetapi belum ada yang sama seperti dokter Sudanto.
Sedangkan menurut Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Melkias Hetaria, pengertian ‘Orang Asli Papua’ perlu dijelaskan kembali kepada masyarakat umum.
Pengertian ini selalu menjadi debat panjang. Apakah  ‘orang asli Papua’adalah mereka yang berambut keriting dan lahir di Papua atau mereka yang berambut lurus dan lahir di Papua. Atau kedua-duanya bisa dibenarkan. ”Banyak yang mengklaim bahwa ‘orang asli Papua’berarti berambut keriting dan berkulit hitam,” kata Hetaria. Dia mengatakan, pengertian tersebut tidak terlalu jelas. Uraiannya perlu ditambah secara detail agar dapat dimengerti oleh masyarakat. ”Saya rasa pengertian itu masih kurang. Sehingga perlu ditambahkan dan diperjelas lagi."
Hetaria juga mengakui jika pengertian mengenai ‘Orang Asli Papua’masih kurang. Sejumlah point dinilai tidak jelas penjabarannya. Ini merupakan kekurangan dari Tim Perumus Undang-Undang Otsus saat itu. Selain itu, pemerintah juga tidak mensosialisasikan mengenai ‘orang asli Papua’ ke daerah-derah terpencil. ”Pemerintah tidak sosialisasi kepada masyarakat, akhirnya jadi seperti ini,” katanya.                   
Dia menguraikan, ada lima ciri yang menjadi dasar seseorang dapat disebut sebagai ‘orang asli Papua’. Pertama, kedua orang tuanya (Bapak dan Ibu) asli Papua. Kedua, salah satu dari kedua orang tuanya, Bapak atau Ibunya lahir di Papua. Ketiga, orang bersangkutan lahir di Papua. Keempat, orang yang lahir dan lama  menetap di Papua dan orang yang diangkat dan mendapat penghargaan tersendiri dari orang Papua.  (Jubi/Yunus / Dam / Musa)